Masa Depan Mobil Listrik di Mata Dahlan Iskan

Posted on Posted in Uncategorized

Dikutip dari: www.jpnn.com

Dahlan Iskan, salah satu sosok di Indonesia yang sangat mendukung berkembangnya mobil listrik Indonesia baru-baru ini mengeluarkan artikel yang berisi opini nya terhadap masa depan industri tersebut. Beliau menegaskan bahwa harapan masih terbuka luas berkat sosok Nur. Terkait siapa sosok Nur sebenarnya, Dahlan Iskan memulainya dengan prestasi salah satu universitas terbaik di Indonesia yakni Institut Teknologi Sepuluh Nopember alias ITS  Surabaya. ITS Surabaya merupakan pemecah telur kendaraan listrik nasional.

Beliau menuturkan bahwa sebelumnya sudah ada Mario Rivaldo dari Bandung yang membuat kendaraan listrik lima tahun lalu. Sudah pula diuji coba di mana-mana. Tapi belum pernah masuk pasar komersial. Tepatnya belum dapat izin. Begitu pula dengan banyaknya motor listrik di pasaran, tapi belum bisa disebut kendaraan nasional.  Namun, ITS-lah yang secara nyata menandatangani kontrak komersial produksi kendaraan listrik. Kerjasama antara ITS dan PT. Garansindo membuahkan hasil berupa GESITS, motor skuter elektrik pertama dalam sejarah Indonesia yang dikomersilkan dan merupakan hasil dari jerih payah tim riset ITS di bidang kendaraan listrik nasional.

Disini, Dahlan Iskan menginformasikan bahwa hal tersebut tidak bisa dipisahkan dari peran kepemimpinan seorang doktor di ITS bernama Muhammad Nur Yuniarto yang mendapat dukungan penuh dari rektornya yakni Prof Dr Ir Joni Hermana MSc. Nur dalam bahasa lain berarti cahaya. Beliau menegaskan bahwa cahaya tersebut memang terlihat dari pribadi Dr. Nur yang satu ini. Begitu pula dengan buku nya yang akan terbit yang berjudul “Kendaraan Listrik: Teknologi untuk Bangsa” yang kata pengantarnya ditulis langsung oleh beliau atas permintaan Dr. Nur juga. Beliau menambahkan bahwa Dr. Nur datang ke rumahnya terkait hal tersebut dengan pasukan lengkap tim kendaraan listrik ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) Surabaya yang terkenal itu: Alief Wikarta yang menjadi wakilnya di tim, Indra Sidharta, Grangsang Setyaramadhani, Yoga Uta Nugraha, Agus Mukhlisin, Albertus Putra, dan Affan Fakhrudin.

Menurutnya, Dr. Nur merupakan pribadi yang unik. Tampilannya bagaikan rocker, bajunya urakan, dan rambutnya gondrong. Hal tersebut sampai membuat seorang Dahlan Iskan takjub karena dibalik semua itu, Dr. Nur merupakan lulusan Manchester, Inggris.  Sebelum berangkat ke Inggris, beliau menegaskan bahwa Dr. Nur menikahi pacarnya yang bernama Febrine Wulan Widyasari, lalu dia bawa serta ke Manchester. Anak pertamanya lahir di sana. Dua anak lainnya lahir di Surabaya. Yang juga menarik adalah Dr. Nur ternyata bukan doktor teknik elektro. S-1-nya memang diraih di ITS, tapi ambil teknik mesin. Doktornya yang dari Manchester itu juga teknik mesin. Tapi, perjuangannya untuk mobil listrik luar biasa. Dialah ketua tim kendaraan listrik ITS yang merupakan satu dari banyak program unggulan ITS yang sangat berhasil.

97Ketua Tim Motor Listrik ITS, M Nur Yuniarto
Muhammad Nur Yuniarto, pembuka harapan masa depan bagi kendaraan listrik nasional.

Tim kendaraan listrik ITS kini sudah mendaftarkan 10 paten. Dan yang lagi disiapkan untuk didaftarkan lebih banyak lagi: 130. Semua di bidang kendaraan listrik. Semua itu bisa dihasilkan karena tim ini memang bekerja di luar kebiasaan.  Siang malam mereka berada di lab dan bengkel. ITS memang menyiapkan gedung dan peralatan. Kunci gedungnya mereka yang pegang. Bisa buka-tutup hari apa saja, jam berapa saja. Rasanya bahkan tidak pernah tutup. Dahlan Iskan bahkan pernah mencoba untuk kesana pada hari Minggu dan ternyata memang tetap buka dan masih ada yang bekerja. Hebatnya, Dr. Nur hampir selalu berada bersama anggota tim. Sudah tidak bisa dibedakan mana mahasiswa dan mana dosen. Pakaiannya maupun sikapnya. Pekerjaannya maupun belepotannya. Beliau sudah seperti teman bagi mahasiswa. Dosen sekaligus teman. Bapak sekaligus anak. Kakak sekaligus adik. Intinya, inilah kunci dari kesuksesan tim dari ITS ini.

Dahlan Iskan mengaku bahwa beliau pernah bertanya kepada Dr. Nur kapan menjadi guru besar dan beliau menjawab, ’’Saya belum pernah mikir.” Bagaimana mau mikir jadi profesor. Setiap mau menulis karya ilmiah, beliau selalu diajak mahasiswa ke bengkel mulai dari siang sampai malam. Tapi, beliau merasa puas dengan perannya seperti itu. Dia memperoleh kebahagiaan. Memang, dia tahu tunjangan gaji profesor cukup menggiurkan. Dapat tambahan penghasilan Rp 25 juta sebulan. Tapi, dia tidak mau menjadi profesor dengan motif seperti itu. Apalagi setelah jadi profesor, ternyata berhenti memberikan sumbangan keilmuan dan karyanya. Sebuah sikap yang menarik.

Dr. Nur lahir di Desa Grebek nan jauh dari Kota Purworejo, Jateng. Setelah selesai bersekolah di SMAN 1 Purworejo, pilihannya dua: Mesin ITB atau Mesin ITS. Beliau tidak memilih UGM yang lebih dekat dengan rumahnya karena sudah ada keluarganya yang gagal disana, maka beliau takut akan terjadi hal yang sama. Namun, ITS menerimanya dan beliau masuk dalam lulusan terbaik di ITS untuk angkatannya tahun 1997. Hobinya memang sejalan dengan apa yang dia tekuni saat ini yaitu ngebut dengan sepeda motor. Ngebut itulah yang membuat dia akrab dengan mahasiswa pada umumnya dan para pengebut pada khususnya. Lalu, ketika para pengebut itu menjadi aktivis bengkel, Dr. Nur ditarik untuk menjadi ketua gengnya. Pengebut tentu tidak mengenal fakultas. Dari fakultas mana saja: elektro, mesin, dan teknik industri. Karena itu, tim kendaraan listrik ITS ini ada yang dari elektro, mesin, dan fakultas lain. Salah satunya adalah mahasiswa anggota tim yang dari teknik mesin, Yoga, kini sudah berhasil membuat motor. Lalu, yang dari teknik elektro sudah bisa bikin controller.  Bahkan sudah bisa bikin BMS (battery management system). Termasuk merangkai baterai dalam satu sistem yang siap pakai. Inilah tiga jatung utama kendaraan listrik.

Dalam wujud kendaraan, tim ini juga sudah melahirkan produk siap produksi komersial. Bentuknya sepeda motor. Namanya GESITS. Ada ITS di tiga huruf terakhirnya. Dahlan Iskan menceritakan bahwa beliau sudah melihat sepeda motor ini dengan mengajak guru-guru SMK Pesantren Sabilil Muttaqin Takeran, Magetan, untuk belajar pada tim ITS. SMK binaan keluarga besar beliau ini ingin membuat sepeda motor listrik juga dan tentu harus belajar dari proyek GESITS yang sudah siap diproduksi secara masal tahun 2018 mendatang. Seperti yang dijelaskan diatas, PT. Garansindo lah yang akan mewujudkan hal tersebut. Kebetulan, pemilik Garansindo adalah alumnus ITS juga. Mereka sudah bicara sangat detail dan kontrak pun sudah dibuat sehingga proses produksi pun sedang dilakukan.

Disini, Dahlan Iskan juga menegaskan bahwa buku milik Dr. Nur yang disebutkan diatas tidak diniatkan untuk meraih gelar profesor dan keilmiahannya terjamin. Dr. Nur punya motif yang lebih besar dari raihan gelar. Motif utamanya untuk mendorong, menuntun, dan mencerahkan semua pihak yang peduli pada perkembangan mobil listrik. Dr. Nur melihat pemerintah kelihatan mau sungguh-sungguh mendorong mobil listrik nasional. Dr. Nur menuliskan pandangannya yang menyeluruh seperti baiknya dan buruknya, tantangannya, dan peluangnya. Memang, sebetulnya pemerintah lah yang bisa menjadi pendorong utama. Tidak usah bicara fasilitas atau insentif karena menurut Dahlan Iskan, pemerintah cukup memberikan peraturan yang jelas dan tidak ribet. Itu saja cukup agar tidak ada pihak yang ingin mewujudkan mobil listrik, lalu dianggap melanggar karena peraturan yang belum ada atau aturan yang masih abu-abu. Karena sejatinya mobil listrik adalah efisiensi nasional bahkan global menurut beliau.

Dr. Nur menegaskan di buku ini: sebenarnya beli BBM untuk mobil itu borosnya luar biasa. Dari 100 persen BBM, hanya 1 persen yang langsung terpakai untuk menggerakkan roda. Yang 99 persen tidak langsung untuk menggerakkan roda. Itu merupakan salah satu dari sekian fakta tentang kendaraan bermotor yan ada sekarang. Sisanya, menurut Dahlan Iskan, dapat dibeli dan dilihat sendiri di buku karya Dr. Nur yang sudah diedarkan ke publik karena jelaslah semuanya disitu. Atau, dalam kata-kata Ricky Elson: Kalau tidak ada industri nasional, para lulusan fakultas teknik tidak akan pernah melakukan pekerjaan engineering. Pekerjaan utamanya hanyalah membaca dan menganalisis katalog. Hal ini dikarenakan semua produk diimpor sehingga yang diperlukan adalah kemampuan membaca katalog produk orang lain.

Membaca draf buku Dr. Nur ini, kita mengetahui A sampai Z-nya persoalan mobil listrik Indonesia. Pada bagian kesimpulannya, Dahlan Iskan mengucapkan selamat untuk Dr. Nur Yuniarto dan Tim Kendaraan Listrik ITS begitu pula untuk Indonesia karena setelah ini negeri ini akan memiliki kendaraan listrik nasional sendiri. Semua sudah diperjuangkan dengan penuh pengorbanan dan dedikasi yang tinggi. Hanya dukungan dan bantuan untuk memajukannya lah yang saat ini dibutuhkan oleh mereka yang melakukan itu semua. Ini karena hal tersebut merupakan tahap akhir dari perjalanan panjang pembuatan kendaraan listrik nasional ini.

cahaya-mobil-listrik-dari-sosok-nur
Dahlan Iskan bersama Dr. Nur Yuniarto dan rekan tim kendaraan listrik ITS

 

Artikel asli: https://www.jpnn.com/news/cahaya-mobil-listrik-dari-sosok-nur

Sumber foto: http://images1.prokal.co/webkalteng/files/berita/2017/08/21/cahaya-mobil-listrik-dari-sosok-nur.jpeg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *